RRI dan Bawaslu Masuk Sekolah: Dorong Pemilih Pemula Jadi Pengawas Partisipatif Pemilu
|
Singkil Utara – Dalam upaya meningkatkan kesadaran politik generasi muda menjelang Pemilu mendatang Radio Republik Indonesia (RRI) bersama Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menggelar kegiatan "Bawaslu Masuk Sekolah" di sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA). Program ini bertujuan untuk mengedukasi pemilih pemula mengenai pentingnya berpartisipasi dalam pemilu serta peran mereka sebagai pengawas partisipatif.
Kegiatan ini dilaksanakan secara langsung di aula SMA Negeri 1 Singkil Utara, yang dihadiri oleh puluhan siswa kelas XI dan XII yang sebagian besar akan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali. Dalam kegiatan tersebut, Bawaslu memberikan pemahaman tentang proses pemilu, potensi pelanggaran, serta bagaimana masyarakat,khususnya generasi muda dapat ikut serta dalam mengawasi jalannya pemilu secara aktif dan sukarela.
"Kami ingin menanamkan nilai-nilai demokrasi sejak dini kepada para siswa. Mereka bukan hanya pemilih pemula, tetapi juga bisa menjadi pengawas partisipatif untuk memastikan pemilu berjalan jujur, adil, dan demokratis," ujar Ketua Bawaslu Kabupaten H.Syamsul Arifin,S.H, saat memberikan sambutan.
Selain materi dari Bawaslu, RRI juga berperan dalam menyebarluaskan kegiatan ini melalui siaran radio dan platform digital. RRI memanfaatkan kekuatan medianya untuk memperluas jangkauan informasi dan edukasi politik ke kalangan muda. Program siaran khusus tentang pemilu dan pendidikan politik remaja menjadi sarana efektif dalam mendukung gerakan literasi demokrasi di sekolah.
Kepala sekolah SMA Negeri 1 Singkil Utara menyambut baik kegiatan ini dan berharap agar para siswa dapat memahami pentingnya peran mereka dalam pesta demokrasi. "Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk membuka wawasan siswa. Mereka jadi tahu bahwa hak suara mereka penting, dan bahwa mereka juga bisa ikut menjaga pemilu agar berjalan bersih," ujarnya.
Selama kegiatan, siswa juga diajak berdiskusi dan menyampaikan pendapat mereka tentang politik, kampanye, serta potensi penyalahgunaan kekuasaan yang bisa terjadi saat pemilu. Antusiasme para siswa terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, mulai dari cara melaporkan pelanggaran hingga peran media sosial dalam memengaruhi opini publik.
Menurut data Bawaslu, partisipasi pemilih pemula di pemilu sebelumnya masih terbilang rendah. Karena itu, pendekatan langsung ke sekolah dianggap sebagai strategi yang efektif untuk membangun kesadaran sejak dini. Diharapkan, para siswa tidak hanya datang ke TPS, tetapi juga aktif memantau proses pemilu di lingkungan sekitar mereka.
Kegiatan “Bawaslu Masuk Sekolah” ini direncanakan akan berlanjut ke beberapa SMA lainnya di wilayah Aceh Singkil, dengan dukungan penuh dari RRI dan Dinas Pendidikan setempat.
Dengan sinergi antara Bawaslu, RRI, sekolah, dan siswa, diharapkan tercipta pemilih muda yang cerdas, kritis, dan berintegritas dalam menjaga demokrasi Indonesia